Tuesday, October 7, 2014
Jalan Kelahiran Baru: Surat Kolose Dalam Alkitab
Jalan Kelahiran Baru: Surat Kolose Dalam Alkitab: Surat Kolose menjelaskan betapa luar biasanya Kristus! Surat Efesus sudah mengajar kita tentang Tubuh Kristus. Surat Kolose melantjutkan den...
Surat Kolose Dalam Alkitab
Surat Kolose menjelaskan betapa luar biasanya
Kristus! Surat Efesus sudah mengajar kita tentang Tubuh Kristus. Surat Kolose
melantjutkan dengan pengajaran tentang Yesus sebagai Kepala Tubuh. Dua kitab
ini saling melengkapi. Efesus menegaskan Tubuh Kristus dan bagaimana kita harus
hidup berhubungan dengan Kristus. Kolose menegaskan Kristus sebagai Kepala
Tubuh dan bagaimana kita harus hidup dengan sifat dan tabiat yang sama dengan
Dia.
Surat Kolose, Efesus, Filipi dan Filemon, dikenal
sebagai “surat penjara’ yang ditulis dari Roma kira-kira pada tahun 60, sewaktu
Paulus di dalam penjara (Kolose. 4:18). Tikhikus yang dipercaya oleh Paulus untuk
membawa suratnya ke Efesus (Efesus. 6:21), juga adalah orang yang membawa surat
Paulus ke Kolose. Tikhikus berjalan bersama dengan Onesimus. Ini menunjukkan
bahwa ternyata walaupun Paulus tidak mengunjungi Kolose, ia mempunyai
teman-teman dan anggota tim apostolik yang melayani di sana (Kolose. 4:7-18).
Kota Kolose terletak kira-kira 160 km dari kota
Efesus di daerah Asia. Yang disebut Asia dalam zaman Perjanjian Baru adalah
sebagian daerah Turki. Kolose, Hieropolis dan Laodikea merupakan tiga kota
tetangga yang dilayani oleh teman rasul Paulus dan menerima surat darinya.
Jemaat di Kolose tidak didirikan oleh Paulus,
melainkan mungkin oleh Epafras. Di Kolose Paulus berkata bahwa ia berjuang
untuk mereka yang belum mengenal dia pribadi (Kolose. 2:1), dan bahwa ia sudah
mendengar tentang keadaan jemaat itu dari Epafras (Kolose. 1:4, 7-9). Selama dua
tahun Paulus mengajar di Efesus, murid-muridnya sudah menginjili seluruh Asia
(Kisah Para Rasul. 19:10 & 26). Murid-murid Paulus itu rupanya termasuk Epaphras,
Filemon dan Arkhippus yang adalah anggota jemaat Kolose, Hierapolis dan
Laodikia (Kolose. 4:12-16, Filipi. 1-3).
Secara isi, surat Kolose mirip surat Efesus. Sama
seperti Efesus 1-3 menegaskan doktrin/pengajaran dan Efesus 4-6 menegaskan
aplikasi praktisnya dalam hidup sehari-hari dalam jemaat, dalam keluarga dan
dalam dunia, demikian juga surat Kolose. Kolose 1-2 berhubungan dengan
pengajaran tentang Kristus dan Kolose 3-4 berhubungan dengan bagaimana pengikut
Kristus perlu hidup.
Surat Kolose ditulis sebagai peringatan terhadap
pengaruh yang menyesatkan. Serigala yang ganas yang membawa doktrin yang
menyesatkan sudah masuk di tengah Jemaat (Kisah Para Rasul. 20:29), berupa legalisme dan gnostisisme.
Legalisme diajarkan oleh orang Yahudi yang ingin “meyahudikan” semua orang yang
percay,a sedangan gnostisisme adalah filsafat manusiawi.
Kata gnostisisme berasal kata bahasa Yunani
‘gnosis’, yang berarti “mengetahui.” Orang yang mengikut filsafat itu percaya
bahwa mereka memiliki ‘pengetahuan’ dan ‘hikmat’ lebih dalam dan lebih tinggi
tentang hal yang merupakan rahasia di alam mistis. Mereka anggap dirinya lebih
rohani, lebih berpengetahuan daripada orang lain. Dalam surat Kolose ini,
Paulus ingin supaya jemaat Kolose dipenuhi dengan ‘pengetahuan’ dan ‘hikmat’
yang benar, bukan yang salah! Ia berdoa supaya mereka mengerti ‘rahasia’ yang
sebenarnya, supaya hidup layak dan berkenan dalam segala hal (Kolose. 1:9-10).
Jemaat Kolose sudah menerima Kristus dan hidup
tertib dengan iman teguh pada Kristus (Kolose. 2:6). Walaupun Paulus tidak berada
di antara mereka, namun ia tetap memanggil mereka untuk hidup tetap dalam
Kristus, berakar di dalam Dia dan bertambah teguh dalam iman, karena di dalam
Dia “tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan.” Paulus mengungkapkan
bahwa yang paling utama, yang paling penting adalah mengenal Kristus. Dalam
surat Kolose, Kristus yang luar biasa itu dinyatakan dengan jelas.
Mari kita lihat. Seperti apakah Surat Kolose menyatakan
keluarbiasaan Kristus?
Dalam Kolose kita melihat bahwa Kristus, gambar
Allah yang berwujud adalah yang terutama dari segala yang diciptakan. Dari Dia,
oleh Dia dan melalui Dia ada segala sesuatu. Dan bukan itu saja, Kristus juga
adalah Pencipta segala sesuatu! Di dalam diriNyalah terwujud dan berdiam secara
jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan. Di dunia ini, di sorga dan di bumi
tidak ada yang lebih utama daripada Kristus (Kol 1:15-17).
Selain yang terutama di dalam dunia, Ia juga adalah
terutama di dalam jemaat. Ia adalah kepala Tubuh! Bukan Paus atau Uskup atau
Rasul yang adalah kepala jemaat! Hanya Yesuslah adalah kepala! Sebagai kepala,
Ia bangkit pertama kali dari antara orang mati. Ia anak sulung, dan kita adalah
anak-anak Allah yang menyusul dan akan dibangkitkan pada akhir zaman (Kol.
1:18-19).
Ia memperdamaikan segala sesuatu yang di bumi dan di
sorga. Darah Yesus membawa perdamaian. Ialah Penebus kita, yang menjadikan kita
diperdamaikan dengan Allah, dijadikan kudus dan tak bercela dan tak bercacat di
hadapanNya. Penebusan ini bukan sekadar keluputan dari neraka. Penebusan
menjadikan kita seperti Kristus. Harapan itu mendorong kita supaya bertekun
dalam iman, tetap teguh, tidak bergoncang, dan tidak tergoyahkan (Kolose.1:20-22).
Inilah motivasi Paulus yang menjadikan ia rela
memakai segala tenaganya dalam menanggung penderitaan, dalam memberitakan dan
mengajar Firman, dalam mempergumulkan dalam perjuangan berat yang luar biasa.
Ia ditugaskan membawa firman rahasia Allah yang kekal kepada jemaat. Rahasia
itu apa? “Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan
akan kemuliaan!” Suatu rahasia yang memimpin tiap-tiap orang kepada
kesempurnaan dalam Kristus (Kolose. 1:23-29).
Sesudah segala penjelasan itu, Paulus memberi
peringatan. Jangan diperdayakan oleh kata-kata yang indah! Jangan ditawan
dengan filsafatnya yang kosong dan palsu! Jangan menurut ajaran turun-temurun
dan roh-roh dunia! Jangan imanmu digagalkan! (Kol 2:1-8). Jangan ditipu oleh
orang yang mau meyahudikan kita! Di dalam Kristus kita disunat dengan sunat
Kristus, dikuburkan dengan Dia dalam baptisan, dibangkitkan untuk mengalami
hidup baru dan segala pelanggaran hukum taurat sudah diampuni. Segala hukum
yang mendakwa dan mengancam kita … telah dipakukan di salib!
Segala kuasa kegelapan yang menuduh kita … telah dilucuti di salib! Karena itu, kita bebas
dari hukum Taurat dan rupa-rupa peraturan seperti “jangan jamah ini, jangan
kecap itu, jangan sentuh ini!” Semua peraturan makan-minum, sabat, hari raya,
bulan baru, semuanya hanya merupakan bayangan saja. Wujud aslinya adalah
Kristus, yang sudah menjadi Kepala atas kita, anggota-anggota TubuhNya! (Kolose 2:9-17). Selain itu, Paulus juga memperingatkan agar kita jangan ditipu oleh
orang Gnostik! Merekalah orang yang pura-pura merendahkan diri, beribadah
kepada malaikat, ikut penglihatan-penglihatan dan membesarkan diri. Mereka
hanya ikut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia. Mereka membuat ibadah
buatan sendiri, merendahkan diri, menyiksa diri. Semuanya kedengaran rohani
padahal sia-sia dan hanya memuaskan hawa nafsu (Kolose. 2:18-23).
Rahasia kemenangan atas ajaran palsu adalah
berpegang teguh kepada Kristus. Kita perlu diikat dan bertumbuh dalam TubuhNya.
Karena semuanya itu, ada dampak praktek dalam kehidupan sehari-hari. Dalam
kehidupan pribadi, kita mati kepada manusia duniawi kita yang lama dengan
segala dosanya: percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, keserakahan,
marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor. Kita mengenakan manusia
yang baru, yaitu Kristus, yang adalah wujud dan gambar Allah. Kita seharusnya
penuh dengan belas kasihan, kerendahan hati, kelemah-lembutan. Inilah buah Roh
dan tanda orang lahir baru, yaitu kepenuhan damai dan kasih (Kolose. 3:1-10).
Dalam jemaat Kristus, kita hidup sebagai anggota
dari satu Tubuh yang sama, tanpa membedakan satu dengan yang lain. Kita hidup
penuh kasih satu kepada yang lain. Kita hidup penuh Firman dan penuh pujian
penyembahan supaya sanggup saling melayani satu kepada yang lain (Kolose 3:11-16).
Sedangkan di dalam rumah tangga, kita hidup menurut peraturan Allah. Seperti
dalam surat Efesus, diterangkan bagaimana kita perlu hidup sebagai isteri,
suami, ayah dan ibu, anak-anak dan hamba dan tuan (Kolose. 3:18-4:1). Inilah cara
hidup kita sebagai anggota Tubuh Kristus, yang dijelaskan dengan praktis dalam
surat Kolose.
Akhirnya, kita perlu berdoa dan berjaga-jaga. Kepada
orang luar kita perlu hidup dengan berhikmat dan dengan kata-kata penuh kasih,
dengan mengetahui bagaimana memberi jawab kepada setiap orang, dengan
mengunakan waktu yang ada (Kolose. 4: 2-6).
Demikianlah Surat Kolose memberi dorongan kepada
kita masing-masing untuk percaya Firman, hidup di dalam Kristus dan tidak
ditipu atau diperdayakan oleh usaha kegelapan yang mau menyesatkan. Dalam surat
Kolose, kita diajar dan dilatih untuk hidup sebagai anggota Tubuh Kristus,
dengan Dia sendiri sebagai Kepalanya.
Jalan Kelahiran Baru: Kristen yang tidak berbuah
Jalan Kelahiran Baru: Kristen yang tidak berbuah: Alkitab menyatakan bahwa iman timbul dari pendengaran dan pendengaran oleh firman Kristus ( Roma. 10:17) . Jika benih Firman yang didenga...
Kristen yang tidak berbuah
Alkitab menyatakan bahwa iman timbul dari pendengaran dan
pendengaran oleh firman Kristus (Roma. 10:17). Jika benih Firman yang didengar
jatuh ke tanah yang subur maka ia akan berakar, bertumbuh, dan berbuah. Namun
demikian banyak orang Kristen yang mendengarkan firman Tuhan, hidupnya tidak
berbuah. Tidak sedikit orang Kristen yang mengaku dipenuhi Roh Kudus namun
hidupnya menunjukkan buah yang sama sekali tidak sesuai dengan prinsip firman
Tuhan. Tuhan Yesus berkata, “Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri
atau buah ara dari rumput duri?” Buah yang dihasilkan merupakan tanda dari
pohonnya, demikian juga orang Kristen tercermin dari buahnya.
Lalu, mengapa ada orang Kristen yang tidak berbuah?
Bagaimanakah agar kita dapat berbuah? Seperti apakah buah yang dihasilkan dalam
diri orang Kristen? Bagaimanakah peranan Roh Kudus di dalamnya? Apa dan
bagaimanakah yang dimaksud dengan buah Roh? Kemudian, apakah itu buah Injil?
Semua pertanyaan penting ini dipaparkan dengan jelas dalam buku ini.
Menghasilkan buah merupakan tanda bahwa suatu pohon itu
hidup, bertumbuh, dan sudah matang. Selain itu, buah juga menyatakan jenis dari
pohon tersebut. Buah yang kita hasilkan merupakan tanda kehidupan, pertumbuhan,kematangan, dan jenis. Ditambah lagi, buah seorang Kristen menunjukkan sampai
di mana derajat hidup orang tersebut. Dalam buku ini, Pdt. Dr. Stephen Tong
membagikan pengamatannya bahwa ternyata banyak orang Kristen hanya meniru orang
Kristen lainnya yang lebih dewasa. Yang dilakukan oleh orang Kristen yang dewasa
adalah sesuatu yang timbul secara alami, seperti air yang tumpah dari gelas
yang diisi penuh. Sedangkan orang yang meniru adalah seperti gelas yang belum
penuh tetapi bocor, akhirnya semua yang dilakukannya tidaklah dilakukan dengan
sungguh hati namun karena paksaan (hal. 17).
Lalu, bagaimana agar kita bisa menghasilkan buah yang
sejati, yang sesuai dengan firman Tuhan? Menarik sekali, salah satu prinsip
yang diberikan oleh Penulis dalam buku ini adalah bahwa Tuhan membersihkan
ranting-ranting yang berbuah supaya berbuah lebih banyak. Kadang Tuhan merusak
gambaran yang kita idamkan, mengambil orang yang paling kita cintai, dan
memberikan hal-hal yang paling sulit dalam hidup kita. Cara Tuhan sering kali
berlawanan dengan logika dan pikiran manusia, tetapi justru cara Tuhan adalah
cara yang terbaik (hal. 26).
Di bagian lain dalam buku ini juga diberikan perbandingan
yang sangat menarik antara buah kedagingan dan buah Roh (Galatia. 5:19-22).
Tentang kemarahan, Pdt. Dr. Stephen Tong menunjukkan bahwa tidak semua
kemarahan itu buruk. Kemarahan menjadi suatu hal yang buruk kalau ia menguasai
pikiran dan kebenaran, tetapi kemarahan yang mempunyai dasar kebenaran adalah
kemarahan yang suci dan betul-betul dipakai oleh Tuhan (hal. 58).
Penulis
menyimpulkan hal ini dengan sangat jelas, “Kemarahan yang berlebihan merusak
kemuliaan Tuhan. Kemarahan
manusia bisa memuliakan Tuhan jika marah itu sesuai dengan kemarahan Allah.” (hal. 59)
Sering kali, orang yang bukan Kristen justru menunjukkan
kebaikan yang lebih dibandingkan orang Kristen. Perasaan seperti itu timbul
karena standar kebaikan orang secara mayoritas didasarkan kepada ‘apakah dia
baik kepada saya atau tidak’ sehingga kita tidak dapat menilai kebaikan itu
dengan baik.
Penulis menyatakan, “Yang baik kepada kita, belum tentu orang
baik; yang kurang baik kepada kita, belum tentu orang jahat.” (hal. 74)
Pepatah Perancis mengatakan bahwa orang baik adalah orang egois yang mempunyai
pikiran panjang.
Berbeda dengan kebaikan semua, kebaikan sejati adalah buah
Roh Kudus: kebaikan yang tidak menghiraukan pamrih ataupun balasan, tetapi
mengalir dari motivasi yang suci, yang rela mengorbankan diri sendiri untuk
membangun orang lain.
Saturday, September 27, 2014
Jalan Kelahiran Baru: 5 Potong Roti dan 2 Ekor Ikan
Jalan Kelahiran Baru: 5 Potong Roti dan 2 Ekor Ikan: MATIUS 14:17 Jawab mereka: "Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan." 14:18 Yesus berkata: /"Bawalah ke ma...
Monday, September 22, 2014
Jalan Kelahiran Baru: Beda Emosi dan Marah
Jalan Kelahiran Baru: Beda Emosi dan Marah: Beda Emosi Dan Amarah Sekelumit Tentang Emosi“Kamu mah emosian sih”. Kata-kata itu sering diucapkan ketika seseorang sedang marah. Emosi se...
Jalan Kelahiran Baru: Pria V/s Wanita
Jalan Kelahiran Baru: Pria V/s Wanita: Kalau ditanya pada usia berapa kita ingin menikah, tentu sebagian besar akan menjawab di atas usia 20 tahun. Mungkin usia 21, 22, 25, ...
Subscribe to:
Posts (Atom)

