Monday, September 22, 2014
Jalan Kelahiran Baru: Pria V/s Wanita
Jalan Kelahiran Baru: Pria V/s Wanita: Kalau ditanya pada usia berapa kita ingin menikah, tentu sebagian besar akan menjawab di atas usia 20 tahun. Mungkin usia 21, 22, 25, ...
Jalan Kelahiran Baru: Yesus Kristus
Jalan Kelahiran Baru: Yesus Kristus: Orang Kristen menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan yang menjelma menjadi manusia. Pengajaran ini sangat penting. Jika pengajaran ini ...
Saturday, September 20, 2014
Jalan Kelahiran Baru: Jangan Melihat Masa Lalu
Jalan Kelahiran Baru: Jangan Melihat Masa Lalu: Rincian untuk disembunyikan dari pacar baru Anda Setiap orang memiliki masa lalu. Beberapa ternyata sangat menyenangkan dan kita ingin dun...
Jalan Kelahiran Baru: "Mengapa Wanita Menangis"
Jalan Kelahiran Baru: "Mengapa Wanita Menangis": Adakalanya dalam sebuah hubungan kasih sering diwarnai dengan air mata dimana wanita lah yang seringkali menitikan air mata ketimbang san...
Jalan Kelahiran Baru: Yesus Kristus
Jalan Kelahiran Baru: Yesus Kristus: Orang Kristen menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan yang menjelma menjadi manusia. Pengajaran ini sangat penting. Jika pengajaran ini ...
Wednesday, September 10, 2014
MEMBERI LEBIH BAIK DARI MENERIMA
“Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima” (Kisah Para Rasul 20:35)
Syalom, teman-teman! Firman Tuhan ini mengajarkan kita, agar lebih baik memberi daripada menerima. Itu artinya kita harus lebih sering memberikan bantuan kepada sesama daripada meminta bantuan dari orang lain. Hal ini jangan membuat kita salah mengerti bahwa kita tidak boleh menerima bantuan orang lain. Sebaliknya, alangkah lebih baik kalau kita lebih sering memberi daripada menerima.
Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa belajar berbagi dengan teman kita dalam bentuk yang sederhana. Misalnya : berbagi bekal makanan dengan teman ,Bisa juga meminjamkan alat tulis, atau yang lain yang bisa pakai untuk kebutuhan banyak orang terutama pelayanan TUHAN dan saling mendoakan, dan lain-lain.
Memberi memang lebih baik daripada menerima. Kebiasaan menolong orang lain ternyata bisa memperpanjang umur.
Sebuah penelitian selama 5 tahun oleh tim peneliti Universitas Buffalo di Amerika menunjukkan bahwa orang yang gemar membantu orang lain ternyata lebih sehat.
“Saya menemukan bahwa ketika seseorang berhadapan dengan situasi stres, mereka yang sering membantu orang lain lebih rendah mengalami gangguan kesehatan,” jelas peneliti Michael J. Poulin, PhD, asisten profesor psikologi di Universitas Buffalo, dilansir di Dailymail
Penelitian sebelumnya oleh Greater Good Science Center di California menegaskan bahwa efek kebiasaan menolong itu seperti drugs. Misalnya, bersedekah membuat bagian otak mengeluarkan hormon dopamin, yang memberikan efek bahagia. Yang pada akhirnya berpengaruh kualitas kesehatan dan memperpanjang umur.
Sifat dermawan juga membantu seseorang tiga kali lebih bahagia. Bahkan, sifat ini dapat mengurangi depresi dan menurunkan risiko bunuh diri pada remaja.
Jadi, berlatihlah untuk murah hati.
Jadi, berlatihlah untuk murah hati.
Hidup bisa sedemikian bahagia dalam keterbatasan jika dimaknai dengan keikhlasan berkorban untuk sesama. Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.
At one point in time, i realize that life is about WHAT YOU CAN GIVE, not what you can get be a thankful person and your life will become more meaningful peace
Ingat ya, teman-teman ! Saat kita memberi hal yang baik, kita pasti juga diberkati dengan hal-hal yang baik oleh Tuhan Belajar apapun, bersyukur, menerima, bersabar, ikhlas, belajar tentang kasih karunia dari TUHAN YESUS dan pastinya belajar untuk menjadi lebih baik lagi..
Sanjeev Kumar Sharma
Thursday, April 18, 2013
Peranan Wanita Dalam Pelayanan
(1) Yesus meninggikan para wanita di atas status
yang diberikan kepada mereka oleh masyarakat. Lukas adalah seorang pria yang memberikan
perhatian yang lebih besar pada wanita dalam catatannya daripada
penulis-penulis Perjanjian Baru lainnya. Sepanjang kehidupan dan pelayanan
Tuhan kita, Yesus mengasihi dan menjunjung tinggil para wanita. Dalam seluruh
Injil, para wanita diuraikan sebagai terang yang sangat menyenangkan.
(2) Yesus memakai dan mendorong para wanita dalam
pelayanan. Catatan Yesus mengenai wanita-wanita ini yang mengikuti Yesus dan
mendukung di Galilea adalah penghargaan kepada mereka dan kepada
pelayanan mereka. Ini memuji para wanita untuk kesetiaan mereka dan komitmen
kepada Tuhan dan ini memberi nilai pada pelayanan-pelayanan mereka sebagai
suatu kemitraan dalam memproklamirkan Injil.
(3) Yesus membedakanpelayanan kaum wanita dengan
kaum pria. Yesus tidak memakai kaum wanita dalam pelayanan dengan cara-cara
yang sama yang Ia gunakan terhadap pria. Ia tidak memilih 6 pria dan 6 wanita
sebagai rasul-rasul; Ia memilih 12 pria. Ia tidak mengutus 36 pria dan 36wanita dari kota ke kota ; Ia mengutus 72 pria. Yesus tidak mengutus
kaum wanita untuk berkhotbah kepada orang-orang. Yesus menggunakan wanita dalam
pelayanan, namun dalam suatu cara yang seluruhnya konsisten dengan
prinsip-prinsip dan praktek-praktek rasul Paulus, prinsip-prinsip dan praktek-praktek
yang dipandang sebagai “sempit” oleh beberapa kaum Injili dan kebanyakan
lainnya. Yesus tidak memakai kaum wanita dalam pelayanan-pelayanan yang
menyebabkan mereka mengajar atau memiliki otoritas di atas kaum pria.
(4) Yesus tidak mengizinkan budaya-Nya untuk
mendiktekan cara-cara dimana wanita-wanita digunakan dalam pelayanan. Sekarang
ini, beberapa orang Kristen dicobai untuk berpikir seperti ini: Yesus
meninggikan wanita-wanita di atas budaya zaman mereka. Oleh karena itu
orang-orang Kristen seharusnya terus mendorong hak-hak para wanita dan
pelayanan yang melampaui standar-standar dan struktur-struktur masyarakat. Jika
Yesus seorang “pembebas kaum wanita” pada zaman-Nya, gereja seharusnya
membebaskan wanita sekarang ini.,
Mereka kehilangan poin tentang apa yang Yesus
lakukan. Yesus tidak membiarkan budaya-Nya mendikte bagaimana wanita-wanitaberfungsi dalam pelayanan. Dalam zaman Yesus, budaya-budaya menekan para
wanita. Dalam zaman kita, budaya kita membebaskan wanita untuk berkembang tanpa
membedakan di antara pria dan wanita dalam urusan pelayanan mereka dan fungsi
mereka. Di gereja kita harus menaati perintah-perintah Allah, dan bukan budaya.
Jadi, daripada menekan budaya dengan meninggikan wanita (seperti Yesuslakukan), gereja dipaksa untuk memegang teguh pendirian dan menolak memberikan
para wanita jabatan dan fungsi yang sudah jelas tidak alkitabiah. Para wanita
dilarang dalam Firman Tuhan untuk mengajar atau memimpin pria (1 Timotius. 2:11-12),
dan gereja harus taat, apakah budaya atau wanita menerima ini sebagai adil dan
pantas atau tidak. Mengikuti Kristus sering berarti menolak budaya kita. Yesus
tidak membiarkan budaya-Nya mendiktekan praktek-Nya, namun lebih menggunakan
prinsip-prinsip ilahi. Kita harus melakukan seperti itu juga, apakah kita
dipuji atau diejek karena taat.
Dalam analisa akhir, kita tidak menghormati
para wanita dengan memperlakukan mereka seperti pria. Kita menghormati mereka
dengan memperlakukan mereka seperti seorang ciptaan istimewa Tuhan, dengan
suatu pujian, bukan sebagai suatu peran yang bersaing dengan kaum pria.
(5) Kerohanian seseorang atau kepeduliannya terhadap
Kristus tidak diukur oleh keunggulan, kuasa, atau posisi seseorang, namun oleh
hati seseorang terhadap Allah dan pengabdian kepada-Nya. Alasan mengapa para
pria dan wanita menuntut “hak” untuk memiliki posisi-posisi yang berkuasa dan
kehormatan adalah karena kita berpikir bahwa kepedulian kita terhadap Tuhan
diukur dengan status kita di hadapan manusia. Saya sedikit ragu-ragu bahwa para
wanita yang Lukas sebutkan dalam teks kita lebih “rohani”, lebih cepat
mengerti, daripada 12 murid.
Para pria yang mengikuti Yesus ingin memanggil api
turun terhadap musuh-musuh Tuhan; mereka ingin memperoleh kuasa dan kehebatan
untuk diri mereka sendiri; mereka berdebat tentang siapa yang terbesar dalam
kerajaan Allah; mereka gagal meraih pengertian-pengertian tentang apa yang
Yesus katakan dan lakukan. Para wanita, sebaliknya, tampaknya lebih peka, lebih
mengabdi pada ibadah murni pada Juruselamat, dan lebih lekas mengerti bahwa
kematian Yesus menjadi nyata (karena itu, pengurapan Yesus untuk
penguburan-Nya, oleh seorang wanita, tentu saja).
Posisi dan kuasa tidak ada
urusan dengan pengabdian mereka kepada Kristus dan akrabnya persekutuan mereka
dengan-Nya. Jadi, “memiliki suatu pelayanan yang penting” tidaklah, dan tak
pernah menjadi kekuatan yang mendorong dalam hidup wanita-wanita yang saleh
ini. Mereka hanya ingin berada bersama-Nya, bahkan seandainya mereka sedang
membasuh kaki-Nya. Mari kita juga berusaha memiliki pikiran seperti ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)

