Friday, October 10, 2014

Jalan Kelahiran Baru: Peranan Wanita Dalam Pelayanan

Jalan Kelahiran Baru: Peranan Wanita Dalam Pelayanan: (1) Yesus meninggikan para wanita di atas status yang diberikan kepada mereka oleh masyarakat. Lukas adalah seorang pria yang memberikan...

Wednesday, October 8, 2014

Jalan Kelahiran Baru: Hidup Bahagia

Jalan Kelahiran Baru: Hidup Bahagia: Siapa yang tak mau hidup bahagia ? Setiap orang pasti ingin hidup berbahagia. Tapi pertanyaannya, seperti apakah hidup yang disebut berbah...

Hidup Bahagia

Siapa yang tak mau hidup bahagia? Setiap orang pasti ingin hidup berbahagia. Tapi pertanyaannya, seperti apakah hidup yang disebut berbahagia itu? Ada yang berpendapat bahwa hidup bahagia itu jika memiliki kekayaan yang berlimpah

Ada juga yang mengatakan bahwa hidup berbahagia itu hidup selalu sehat dan aman. Yang lainnya menunjukkan keluarga yang harmonis sebagai pertanda hidup bahagia. Orang lain mengatakan bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang selalu tertawa. Apakah semua itu menjamin kebahagiaan? Kenyataannya, ada orang kaya yang jika ditanya apakah mereka berbahagia, mereka menggelengkan kepala. 

Orang sehat pun belum tentu merasa sudah berbahagia. 

Mengapa begitu? Karena selama ini kita memiliki pandangan yang keliru terhadap arti kebahagian

Pertama, kita sering keliru dengan menganggap bahwa kebahagiaan itu berarti bersenang-senang. Hatinya selalu bergembira. Itu sebabnya banyak orang kemudian berusaha menciptakan acara pesta-pesta atau lari ke obat penenang untuk menciptakan kegembiraan.

Kedua, kita sering berpikiran keliru dengan menganggap bahwa kita dapat mengejar kebahagiaan. Kita harus melakukan sesuatu untuk mendapatkan kebahagiaan itu. Padahal kebahagiaan kebenarnya merupakan akibat atau hasil dari sesuatu yang kita lakukan.

Ketiga, ada anggapan keliru bahwa kebahagiaan itu selalu ditemukan di luar diri kita atau ada pada orang lain. Kita sering berkata pada diri sendiri, "Dengan berganti pekerjaan, mungkin saya akan menjadi bahagia", "Saya tidak betah hidup di sini. Kalau saya pindah rumah ke kompleks yang lebih elit mungin saya akan lebih bahagia." Atau berpikir begini, "Kalau saya menikahi orang ini, hidup saya pasti akan berbahagia."

Tuesday, October 7, 2014

Jalan Kelahiran Baru: Surat Kolose Dalam Alkitab

Jalan Kelahiran Baru: Surat Kolose Dalam Alkitab: Surat Kolose menjelaskan betapa luar biasanya Kristus! Surat Efesus sudah mengajar kita tentang Tubuh Kristus. Surat Kolose melantjutkan den...

Surat Kolose Dalam Alkitab

Surat Kolose menjelaskan betapa luar biasanya Kristus! Surat Efesus sudah mengajar kita tentang Tubuh Kristus. Surat Kolose melantjutkan dengan pengajaran tentang Yesus sebagai Kepala Tubuh. Dua kitab ini saling melengkapi. Efesus menegaskan Tubuh Kristus dan bagaimana kita harus hidup berhubungan dengan Kristus. Kolose menegaskan Kristus sebagai Kepala Tubuh dan bagaimana kita harus hidup dengan sifat dan tabiat yang sama dengan Dia.

Surat Kolose, Efesus, Filipi dan Filemon, dikenal sebagai “surat penjara’ yang ditulis dari Roma kira-kira pada tahun 60, sewaktu Paulus di dalam penjara (Kolose. 4:18). Tikhikus yang dipercaya oleh Paulus untuk membawa suratnya ke Efesus (Efesus. 6:21), juga adalah orang yang membawa surat Paulus ke Kolose. Tikhikus berjalan bersama dengan Onesimus. Ini menunjukkan bahwa ternyata walaupun Paulus tidak mengunjungi Kolose, ia mempunyai teman-teman dan anggota tim apostolik yang melayani di sana (Kolose. 4:7-18).

Kota Kolose terletak kira-kira 160 km dari kota Efesus di daerah Asia. Yang disebut Asia dalam zaman Perjanjian Baru adalah sebagian daerah Turki. Kolose, Hieropolis dan Laodikea merupakan tiga kota tetangga yang dilayani oleh teman rasul Paulus dan menerima surat darinya.

Jemaat di Kolose tidak didirikan oleh Paulus, melainkan mungkin oleh Epafras. Di Kolose Paulus berkata bahwa ia berjuang untuk mereka yang belum mengenal dia pribadi (Kolose. 2:1), dan bahwa ia sudah mendengar tentang keadaan jemaat itu dari Epafras (Kolose. 1:4, 7-9). Selama dua tahun Paulus mengajar di Efesus, murid-muridnya sudah menginjili seluruh Asia (Kisah Para Rasul. 19:10 & 26). Murid-murid Paulus itu rupanya termasuk Epaphras, Filemon dan Arkhippus yang adalah anggota jemaat Kolose, Hierapolis dan Laodikia (Kolose. 4:12-16, Filipi. 1-3).

Secara isi, surat Kolose mirip surat Efesus. Sama seperti Efesus 1-3 menegaskan doktrin/pengajaran dan Efesus 4-6 menegaskan aplikasi praktisnya dalam hidup sehari-hari dalam jemaat, dalam keluarga dan dalam dunia, demikian juga surat Kolose. Kolose 1-2 berhubungan dengan pengajaran tentang Kristus dan Kolose 3-4 berhubungan dengan bagaimana pengikut Kristus perlu hidup.

Surat Kolose ditulis sebagai peringatan terhadap pengaruh yang menyesatkan. Serigala yang ganas yang membawa doktrin yang menyesatkan sudah masuk di tengah Jemaat (Kisah Para Rasul. 20:29), berupa legalisme dan gnostisisme. Legalisme diajarkan oleh orang Yahudi yang ingin “meyahudikan” semua orang yang percay,a sedangan gnostisisme adalah filsafat manusiawi.
Kata gnostisisme berasal kata bahasa Yunani ‘gnosis’, yang berarti “mengetahui.” Orang yang mengikut filsafat itu percaya bahwa mereka memiliki ‘pengetahuan’ dan ‘hikmat’ lebih dalam dan lebih tinggi tentang hal yang merupakan rahasia di alam mistis. Mereka anggap dirinya lebih rohani, lebih berpengetahuan daripada orang lain. Dalam surat Kolose ini, Paulus ingin supaya jemaat Kolose dipenuhi dengan ‘pengetahuan’ dan ‘hikmat’ yang benar, bukan yang salah! Ia berdoa supaya mereka mengerti ‘rahasia’ yang sebenarnya, supaya hidup layak dan berkenan dalam segala hal (Kolose. 1:9-10).

Jemaat Kolose sudah menerima Kristus dan hidup tertib dengan iman teguh pada Kristus (Kolose. 2:6). Walaupun Paulus tidak berada di antara mereka, namun ia tetap memanggil mereka untuk hidup tetap dalam Kristus, berakar di dalam Dia dan bertambah teguh dalam iman, karena di dalam Dia “tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan.” Paulus mengungkapkan bahwa yang paling utama, yang paling penting adalah mengenal Kristus. Dalam surat Kolose, Kristus yang luar biasa itu dinyatakan dengan jelas.

Mari kita lihat. Seperti apakah Surat Kolose menyatakan keluarbiasaan Kristus?


Dalam Kolose kita melihat bahwa Kristus, gambar Allah yang berwujud adalah yang terutama dari segala yang diciptakan. Dari Dia, oleh Dia dan melalui Dia ada segala sesuatu. Dan bukan itu saja, Kristus juga adalah Pencipta segala sesuatu! Di dalam diriNyalah terwujud dan berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan. Di dunia ini, di sorga dan di bumi tidak ada yang lebih utama daripada Kristus (Kol 1:15-17).


Selain yang terutama di dalam dunia, Ia juga adalah terutama di dalam jemaat. Ia adalah kepala Tubuh! Bukan Paus atau Uskup atau Rasul yang adalah kepala jemaat! Hanya Yesuslah adalah kepala! Sebagai kepala, Ia bangkit pertama kali dari antara orang mati. Ia anak sulung, dan kita adalah anak-anak Allah yang menyusul dan akan dibangkitkan pada akhir zaman (Kol. 1:18-19).


Ia memperdamaikan segala sesuatu yang di bumi dan di sorga. Darah Yesus membawa perdamaian. Ialah Penebus kita, yang menjadikan kita diperdamaikan dengan Allah, dijadikan kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapanNya. Penebusan ini bukan sekadar keluputan dari neraka. Penebusan menjadikan kita seperti Kristus. Harapan itu mendorong kita supaya bertekun dalam iman, tetap teguh, tidak bergoncang, dan tidak tergoyahkan (Kolose.1:20-22).

Inilah motivasi Paulus yang menjadikan ia rela memakai segala tenaganya dalam menanggung penderitaan, dalam memberitakan dan mengajar Firman, dalam mempergumulkan dalam perjuangan berat yang luar biasa. Ia ditugaskan membawa firman rahasia Allah yang kekal kepada jemaat. Rahasia itu apa? “Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!” Suatu rahasia yang memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus (Kolose. 1:23-29).

Sesudah segala penjelasan itu, Paulus memberi peringatan. Jangan diperdayakan oleh kata-kata yang indah! Jangan ditawan dengan filsafatnya yang kosong dan palsu! Jangan menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia! Jangan imanmu digagalkan! (Kol 2:1-8). Jangan ditipu oleh orang yang mau meyahudikan kita! Di dalam Kristus kita disunat dengan sunat Kristus, dikuburkan dengan Dia dalam baptisan, dibangkitkan untuk mengalami hidup baru dan segala pelanggaran hukum taurat sudah diampuni. Segala hukum yang mendakwa dan mengancam kita … telah dipakukan di salib! 

Segala kuasa kegelapan yang menuduh kita … telah dilucuti di salib! Karena itu, kita bebas dari hukum Taurat dan rupa-rupa peraturan seperti “jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini!” Semua peraturan makan-minum, sabat, hari raya, bulan baru, semuanya hanya merupakan bayangan saja. Wujud aslinya adalah Kristus, yang sudah menjadi Kepala atas kita, anggota-anggota TubuhNya! (Kolose 2:9-17). Selain itu, Paulus juga memperingatkan agar kita jangan ditipu oleh orang Gnostik! Merekalah orang yang pura-pura merendahkan diri, beribadah kepada malaikat, ikut penglihatan-penglihatan dan membesarkan diri. Mereka hanya ikut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia. Mereka membuat ibadah buatan sendiri, merendahkan diri, menyiksa diri. Semuanya kedengaran rohani padahal sia-sia dan hanya memuaskan hawa nafsu (Kolose. 2:18-23).

Rahasia kemenangan atas ajaran palsu adalah berpegang teguh kepada Kristus. Kita perlu diikat dan bertumbuh dalam TubuhNya. Karena semuanya itu, ada dampak praktek dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan pribadi, kita mati kepada manusia duniawi kita yang lama dengan segala dosanya: percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, keserakahan, marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor. Kita mengenakan manusia yang baru, yaitu Kristus, yang adalah wujud dan gambar Allah. Kita seharusnya penuh dengan belas kasihan, kerendahan hati, kelemah-lembutan. Inilah buah Roh dan tanda orang lahir baru, yaitu kepenuhan damai dan kasih (Kolose. 3:1-10).

Dalam jemaat Kristus, kita hidup sebagai anggota dari satu Tubuh yang sama, tanpa membedakan satu dengan yang lain. Kita hidup penuh kasih satu kepada yang lain. Kita hidup penuh Firman dan penuh pujian penyembahan supaya sanggup saling melayani satu kepada yang lain (Kolose 3:11-16). Sedangkan di dalam rumah tangga, kita hidup menurut peraturan Allah. Seperti dalam surat Efesus, diterangkan bagaimana kita perlu hidup sebagai isteri, suami, ayah dan ibu, anak-anak dan hamba dan tuan (Kolose. 3:18-4:1). Inilah cara hidup kita sebagai anggota Tubuh Kristus, yang dijelaskan dengan praktis dalam surat Kolose.

Akhirnya, kita perlu berdoa dan berjaga-jaga. Kepada orang luar kita perlu hidup dengan berhikmat dan dengan kata-kata penuh kasih, dengan mengetahui bagaimana memberi jawab kepada setiap orang, dengan mengunakan waktu yang ada (Kolose. 4: 2-6).



Demikianlah Surat Kolose memberi dorongan kepada kita masing-masing untuk percaya Firman, hidup di dalam Kristus dan tidak ditipu atau diperdayakan oleh usaha kegelapan yang mau menyesatkan. Dalam surat Kolose, kita diajar dan dilatih untuk hidup sebagai anggota Tubuh Kristus, dengan Dia sendiri sebagai Kepalanya.

Jalan Kelahiran Baru: Kristen yang tidak berbuah

Jalan Kelahiran Baru: Kristen yang tidak berbuah: Alkitab menyatakan bahwa iman timbul dari pendengaran dan pendengaran oleh firman Kristus ( Roma. 10:17) . Jika benih Firman yang didenga...

Kristen yang tidak berbuah

Alkitab menyatakan bahwa iman timbul dari pendengaran dan pendengaran oleh firman Kristus (Roma. 10:17). Jika benih Firman yang didengar jatuh ke tanah yang subur maka ia akan berakar, bertumbuh, dan berbuah. Namun demikian banyak orang Kristen yang mendengarkan firman Tuhan, hidupnya tidak berbuah. Tidak sedikit orang Kristen yang mengaku dipenuhi Roh Kudus namun hidupnya menunjukkan buah yang sama sekali tidak sesuai dengan prinsip firman Tuhan. Tuhan Yesus berkata, “Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?” Buah yang dihasilkan merupakan tanda dari pohonnya, demikian juga orang Kristen tercermin dari buahnya.
Lalu, mengapa ada orang Kristen yang tidak berbuah? Bagaimanakah agar kita dapat berbuah? Seperti apakah buah yang dihasilkan dalam diri orang Kristen? Bagaimanakah peranan Roh Kudus di dalamnya? Apa dan bagaimanakah yang dimaksud dengan buah Roh? Kemudian, apakah itu buah Injil? Semua pertanyaan penting ini dipaparkan dengan jelas dalam buku ini. 
Menghasilkan buah merupakan tanda bahwa suatu pohon itu hidup, bertumbuh, dan sudah matang. Selain itu, buah juga menyatakan jenis dari pohon tersebut. Buah yang kita hasilkan merupakan tanda kehidupan, pertumbuhan,kematangan, dan jenis. Ditambah lagi, buah seorang Kristen menunjukkan sampai di mana derajat hidup orang tersebut. Dalam buku ini, Pdt. Dr. Stephen Tong membagikan pengamatannya bahwa ternyata banyak orang Kristen hanya meniru orang Kristen lainnya yang lebih dewasa. Yang dilakukan oleh orang Kristen yang dewasa adalah sesuatu yang timbul secara alami, seperti air yang tumpah dari gelas yang diisi penuh. Sedangkan orang yang meniru adalah seperti gelas yang belum penuh tetapi bocor, akhirnya semua yang dilakukannya tidaklah dilakukan dengan sungguh hati namun karena paksaan (hal. 17).
Lalu, bagaimana agar kita bisa menghasilkan buah yang sejati, yang sesuai dengan firman Tuhan? Menarik sekali, salah satu prinsip yang diberikan oleh Penulis dalam buku ini adalah bahwa Tuhan membersihkan ranting-ranting yang berbuah supaya berbuah lebih banyak. Kadang Tuhan merusak gambaran yang kita idamkan, mengambil orang yang paling kita cintai, dan memberikan hal-hal yang paling sulit dalam hidup kita. Cara Tuhan sering kali berlawanan dengan logika dan pikiran manusia, tetapi justru cara Tuhan adalah cara yang terbaik (hal. 26). 
Di bagian lain dalam buku ini juga diberikan perbandingan yang sangat menarik antara buah kedagingan dan buah Roh (Galatia. 5:19-22). Tentang kemarahan, Pdt. Dr. Stephen Tong menunjukkan bahwa tidak semua kemarahan itu buruk. Kemarahan menjadi suatu hal yang buruk kalau ia menguasai pikiran dan kebenaran, tetapi kemarahan yang mempunyai dasar kebenaran adalah kemarahan yang suci dan betul-betul dipakai oleh Tuhan (hal. 58).
 Penulis menyimpulkan hal ini dengan sangat jelas, Kemarahan yang berlebihan merusak kemuliaan Tuhan. Kemarahan manusia bisa memuliakan Tuhan jika marah itu sesuai dengan kemarahan Allah.” (hal. 59)
Sering kali, orang yang bukan Kristen justru menunjukkan kebaikan yang lebih dibandingkan orang Kristen. Perasaan seperti itu timbul karena standar kebaikan orang secara mayoritas didasarkan kepada ‘apakah dia baik kepada saya atau tidak’ sehingga kita tidak dapat menilai kebaikan itu dengan baik. 
Penulis menyatakan, “Yang baik kepada kita, belum tentu orang baik; yang kurang baik kepada kita, belum tentu orang jahat.” (hal. 74) Pepatah Perancis mengatakan bahwa orang baik adalah orang egois yang mempunyai pikiran panjang.

Berbeda dengan kebaikan semua, kebaikan sejati adalah buah Roh Kudus: kebaikan yang tidak menghiraukan pamrih ataupun balasan, tetapi mengalir dari motivasi yang suci, yang rela mengorbankan diri sendiri untuk membangun orang lain.